Welcome to My Paradise..

Hell o readers!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!

Kamis, 29 Desember 2011

When Christmas is Coming

Taraaaaaaa, lama sekali gue tidak bercuap-cuap di sini, seakan menyibukkan dari sendiri yang padahal selama masa persembunyian itu gue telak jadi orang yang tidak punya kreatifitas dan inovasi sama sekali, hihihi, tragis! Well, sekarang udah bulan Desember, udah penghujung tahun, udah akhir tahun, udah menghitung hari untuk penghabisan tahun 2011 ini, dan hanya tinggal beberapa hari juga menyambut hari Natal. Ya, membahas mengenai Natal kali ini entah kenapa aroma yang gue rasakan berbeda, ya, beda, tidak sama seperti natal-natal tahun kemarin. Christmas tree tetap ada lengkap dengan kelap kelip lampunya, salju-salju kecil juga setia menemani berdirinya pohon natal di rumah gue, hiasan lainnya juga ada. Nuansa natal dimana-mana pun sudah mulai terasa, ketika gue pergi ke satu mall dan mall lainnya, mall tersebut seakan mewakili dirinya kalau mereka turut serta merayakan Natal tahun ini, tidak hanya itu, sale dimana-mana juga adalah salah satu ciri kalau Christmas is Coming! Gembira, ya, gue merasakan kegembiraan dan keceriaan pernak pernik dan nuansa Natal yang tercipta tahun ini, tapi cuma itu, hanya itu yang gue rasakan, tidak lebih dan tidak kurang!

Tahun 2011 ini akan menjadi perayaan Natal yang berbeda bagi gue, akan bener-bener menjadi Natal yang harus gue maknai sendiri, yang gue isi dengan keberadaan diri gue sendiri, yang melihat sudut dan makna Natal ini sendiri dari gambaran diri gue, bukan dari siapapun dan bukan dari manapun. Natal kali ini gue 100% absent dari pelayanan, gue menarik diri dari apa yang dinamakan melayani itu, gue tidak melakukan apapun, tidak ada! Makanya tadi gue bilang kalau gue memaknai Natal kali ini hanya dari, untuk dan kembali lagi kepada gue. Hal ini sungguh berbeda dari Natal gue biasanya, gue yang selalu menyibukkan diri dengan kegiatan Natal, ikut melayani pada perayaan Natal ini itu, ikut berpartisipasi pada kemeriahan Natal, dan selalu mencoba memaknai perayaan Natal dengan ambil bagian dalam pelayanan, kini gue menikmati itu semua dengan diri gue sendiri, dengan tidak ada kesibukan pelayanan apapun. Berbeda. Ya, itu dia kenapa gue menyebut Natal kali ini berbeda! Gue seperti dituntut untuk melihat dan memaknai Natal kali ini sendiri, dengan tidak melakukan apapun, dengan tidak disibukkan oleh apapun juga. Hal ini seperti mengajak gue untuk kembali merenung dan melihat peran Natal yang sejauh ini gue maknai, untuk mendalami lagi apakah gue sudah sungguh-sungguh memaknai Natal ini seperti yang Tuhan mau dan inginkan dari gue. Ya, rentetan kalimat yang sulit dipahami memang, dan untuk menjalani itu semua juga gue agak tidak paham.

Gue sangat menyukai lagu-lagu Natal, gue suka pohon natal, gue suka hiasan Natal, gue suka suasana ketika Natal, gue suka kemeriahan Natal, i do love Christmas! Tapi, sejauh ini gue belum bisa betul-betul memaknai Natal itu sendiri buat gue. Gue hanya terlalu haus akan baju Natal yang baru, haus akan perayaan Natal yg meriah, haus akan keceriaan Natal, tapi ternyata gue terlalu kemarau untuk mengerti arti Natal yang sesungguhnya!

Menyadari hal itu gue jadi agak sedih dengan diri gue sendiri, gue yg udah 20 tahun lebih merayakan Naatal ternyata belum benar-benar bisa mengaplikasikan Natal itu sendiri buat gue dan buat sekeliling gue. Kelahiran Tuhan Yesus yang dengan cara yang luar biasa dan suci buat keselamatan gue ternyata masih menjadi hal yang biasa buat gue. Tidak menjadi benar-benar sinar keagungan dan keajaiban buat gue, gue masih belum bisa berkaca dan mengoreksi kehidupan gue selama ini, masih tetap ada di satu lingkaran yang kebanyakan orang menyebutnya comfort zone, gue masih terlalu takut untuk melangkah ke satu zona dimana gue harus merubah segala sesuatu yang kurang baik dalam hidup gue, gue masih terlalu nyaman berada di permainan kehidupan yang terlalu banyak menawarkan kebahagiaan semu! Beberapa bulan belakangan ini tampak sekali gue jarang ke Gereja, gue jarang bernanyi lagu puji-pujian, gue bahkan terlalu sombong untuk mengundang Tuhan dalam bentuk doa, cih! Im totally jerk! Kekudusan seakan-akan menjauh dari diri gue, rasa syukur seakan tidak lagi menjadi kata kramat dalam hidup gue, gue betul-betul merasa hampa di penghujung tahun ini. Beberapa kali gue sempat tersadar akan kecanduan gue akan permainan dunia ini, beberapa kali juga gue mencoba mengingatkan dan menarik kembali diri gue, tapi itu semua seakan sia-sia, gue malah mendapati diri gue terlalu malas untuk mencoba melangkah, sekalipun itu hanya 1 langkah! Gue seperti merasa kehilangan jati diri gue yang sesungguhnya, oke, lebih tepatnya gue seakan menyembunyikan diri gue dari aura positif gue itu sendiri. Gak jarang gue coba merenungi dan memutar kembali halaman-halaman catatan kehidupan gue, gue menggaris bawahi hal yang tidak baik, gue melingkari hal istimewa dan mewarnai berkat yang gue terima, dan itu semua membuat gue kembali menundukkan kepala karena ternyata Tuhan masih, terus dan selalu bekerja dalam hidup gue, dan gue yang juga masih berdiri di tempat, gak mau melangkah sedikitpun untuk meraih segala sesuatu yang jauh lebih baik dan bermakna buat kehidupan gue, terutama pada Natal kali ini.



l o v e,
Defi Octaviany

Rabu, 03 Agustus 2011

Pernyataan, Penyesalan, Pengharapan.

Beberapa hari ini gue seperti mati rasa, gue merasa seperti robot yang bergerak ke sana kemari tanpa ada rasa apapun, flat! Perasaan meluap-luap yang minggu-minggu kemarin gue rasakan entah pergi kemana, rasa menjadi baru dan hidup terasa seperti tertinggal di suatu tempat, suatu tempat yang gue gak tau itu dimana, tempat yang sepertinya gue tidak pernah mendatanginya, dan tempat itu kini mengubur setiap rasa yang baik yang pernah menjadi rasa bahagia lantaran memilikinya, dia, laki-laki yang gue namakan pacar, dia yang yang kemarin membisikan kata-kata manis dan manja di setiap tapakan hari-hari gue, tapi ternyata dia juga yang adalah aktor utama dari cerita hidup robot gue belakangan ini.

Kisah yang hanya bisa kita rajut beberapa minggu kemarin sekarang terasa seperti sebuah formalitas saja, untuk komunikasi, pertemuan dan sentuhan kini hanya bisa dikenang dan hanya bisa bisa gue rasakan indahnya ketika gue sedang memejamkan mata dan memutar otak untuk mengingat keindahan itu lagi. Untuk setiap pertanyaan "sedang apa, dimana, sudah makan?" hanya akan menjadi kenangan manis yang saat ini bisa membuat gue menguras air mata. Entah apa yang salah. Intinya kemarin dia meminta gue untuk mejalani gaya pacaran yang santai, yang sampe detik ini pun gue tidak bisa mendefinisikan gaya pacaran santai yang dia maksud, dan setelah melihat dari 2 hari belakangan, sepertinya gaya pacaran santai yang dia ingini saat ini adalah: satu sms di waktu pagi hari dan malam hari. Titik. Udah. Itu aja! Dengan bantuan logika apapun gue tidak sependapat akan caranya yang seperti ini, kemerosotan komunikasi bukan tidak mungkin memerosotkan rasa yang kami punya juga, dan bahkan pahitnya bisa memusnahkan rasa yang dinamakan sayang itu. Atau, ini memang caranya untuk membiasakan gue tanpa dirinya yang sebenarnya adalah celah untuk perlahan-lahan pergi dari kehidupan percintaan kami? Hah, sungguh ingin menangis rasanya membahas masalah ini.

Kisah ini akhirnya gue biarkan untuk menjadi konsumsi public, dengan sabar gue merangkai kata untuk bercerita kepada orang-orang terdekat gue yang sekiranya bisa membantu gue untuk melegakan rasa resah yang beberapa hari membendungi hari gue. Berbagai perasaan berkecamuk di hati gue, dan ekspresi gue saat bercerita cukup mewakilkan apa yang tengah gue rasakan, dan disela-sela cerita gue berusaha sekuat mungkin menahan air mata yang berburu untuk menetes, tapi dengan beberapa tarikan nafas yang panjang gue coba untuk terlihat lebih kuat dan tegar. Semua perasaan dan keluhan telah gue keluarkan, dan ekspresi yang beragam muncul di wajah mereka, 1 hal yang pasti, mereka cukup sedih mendengar serangkaian cerita gue itu, dan akhirnya banyak juga kata-kata bijak yang ditujukan ke gue, dengan garis besar yang gue tangkep adalah gue harus cukup bijak untuk menilai sikapnya yang sudah tidak wajar itu. Gue harus bisa menempatkan diri gue sementara waktu ini, yang dengan artian adalah gue harus ikut melaksanakan aksi demo bicara, gue harus bungkam untuk sementara waktu untuk tidak mengganggu kehidupannya, dan harus cukup puas hanya membalas untuk tiap pesan singkatnya yang masuk. MIRIS!

Saat ini, gue merasa masih punya sisa-sisa kekuatan untuk menjalani semua ketidak pastian ini, sekalipun ada rasa penyesalan telah membuang-buang waktu dan perasaan gue yang cukup potensial untuk gue bagikan kepada seseorang yang jauh lebih baik, tapi gue tidak akan menyerah sampai di sini. Gue akan terus mencoba, sampai pada akhirnya gue benar-benar merasa kalau semuanya sudah cukup, sampai waktu yang memberitahukan gue tentang batas kesabaran yang gue sangat bersyukur itu semua masih gue punya dengan limit yang masih tidak terbatas. Rasa yang semula tetap gue jaga, rindu yang mengebu-gebu juga tetap gue simpan di hati gue, dan doa untuknya juga tetap gue serukan, minimal ketika gue tidak bisa menjadi sandarannya, gue tetap mengingatkan Tuhan untuk menjaga orang yang gue kasihi. Gue tetap meminta Tuhan yang bekerja buat semua pergumulan ini, gue mau untuk setiap pertanyaan dan permohonan dalam selipan doa gue untuk diberikan jawaban. Gue tidak meminta sebuah jawaban yang gue harapakan terjadi (ya, walaupun sebagai manusia gue lebih tertarik kalau keinginan gue terwujudkan), tapi gue memohon supaya segala sesuatunya bekerja tepat dan baik pada waktunya, dan sekalipun jawaban "tidak" yang gue dapatkan, gue sangat yakin akan ada hal-hal baik lainnya yang akan gue dapatkan nantinya. Ini bener-bener jadi bahan pembelajaran buat gue, kejadian ini membuat gue mengembangkan pemikiran gue, membuat gue menjadi orang yang jauh lebih positif, dan pastinya membuat gue lebih mengerti kalau semua hal yang sejauh ini menurut gue baik belum tentu baik juga buat sekeliling gue, terutama buat Dia yang telah menyediakan segala-galanya. Gue akan terus bertahan dan berharap, terus.

Untuk dirinya yang sedang belajar untuk memahami semua ini, gue tau elo orang yang baik, gue tau ini semua elo lakuin bukan tanpa alasan, dan gue tau suatu saat nanti elo tau kalau gue pernah sangat mempertahankan elo dan kita. Semoga waktu dan keadaan berpihak kepada kita, dan kalaupun tidak, elo harus tau kalau pada saat pertama kali gue mempersilakan elo untuk hadir di hidup gue, pada saat itu juga gue telah belajar untuk melepaskan elo, sehingga kalau suatu saat elo harus pergi, gue akan melepas elo dengan sebuah senyuman terima kasih.


l o v e,
Defi Octaviany

Minggu, 31 Juli 2011

Serpihan Sesal

Hari ini, 31 Juli 2011, lagi-lagi gue merasakan kegalauan luar biasa, hari ini rasa yang pernah hampir ingin gue kubur dalam-dalam 2 tahun yang lalu akhirnya datang lagi, keGALAUan ini, keRESAHan ini akhirnya gue rasakan kembali, sungguh hari yang tidak bersahabat, sungguh hari yang luar biasa tidak baik. Ya, semua kejadian itu terulang lagi, percis, hampir sama. Tidak adanya kabar, putusnya telekomunikasi dan rasa gelisah ini kembali menjadi pelengkap hari ini.

Belum genap sebulan hubungan ini kami jalani, tapi entah kenapa terkadang ego yang lebih mendominasi di antara kami, entah apa yang salah sehingga rasa sayang itu tidak dapat berkuasa di tiap gelintiran masalah yang ada. Gue benci merasa disia-siakan, gue benci merasa tidak dianggap, gue benci memohon dan mengemis untuk satu rasa yang namanya "cinta", gue benci menangis! Apakah kadang ketidakberdayaan wanita menjadikan dirinya harus merengek demi suatu ikatan, apakah perempuan yang katanya lemah dan berperasaan itu harus puas menyelesaikan kisahnya dengan air mata? Dan apakah setelah air mata dan rengekan itu semua keadaan pada akhirnya akan menjadi baik, semua akan kembali seda kala, dan rasa yang tadinya meluap-luap itu pada akhirnya akan kembali pada porsinya masing-masing? Semua keterbatasan gue sebagai perempuan membuat banyak hal yang pada akhirnya menjadi batu sandungan buat hubungan yang pernah dan sedang gue alami. Sifat perfeksionis, sensitif, ingin selalu di nomor satukan membuat gue kalah dengan setiap logika yang dipunya laki-laki.

Gue, yang terkadang terlalu berlebihan menilai sesuatu, gue yang katanya terlalu tidak bisa mengerti kemauannya, gue yang harus peduli sekalipun dirinya terlihat terlalu cuek, gue yang harus bertanya dimana dan sedang apakah dirinya, gue yang sekarang harus puas tidak mendapatkan respon untuk setiap sms dan panggilan telv, dan gue adalah orang yang merana malam ini. Setiap lembaran harga diri udah gue robek demi mencuri perhatiannya lagi, untuk setiap perkataan baik yang paling manis ataupun terpahit pun sudah gue keluarkan, untuk tangisan yang amat sendu pun sudah, tapi itu pun tidak mengobati keadaan, tidak juga meluluhkan hatinya. Apa lagi yang salah? Dimana lagi yang salah? Harus bagaimana lagi rasa memohon ini harus gue essaykan?



l o v e,
Defi Octaviany

Rabu, 13 Juli 2011

Mengenang Dia yang Telah Pergi

Hari ini, 13 Juli 2011, tepat hari dimana seharusnya dia yang telah pergi merayakan hari kelahirannya, hari ini semestinya kami bernyanyi lagu "Selamat Ulang Tahun", hari ini seharusnya dia meniup lilin pada angka 23, hari ini hari ini hari ini dan seharusnya. Sedih! Jujur entah apa dan bagaimana perasaan gue saat ini, disaat gue harus mengingat hari bersejarah ini, gue juga harus tersadarkan oleh kenyataan kalau ternyata hari ini sudah tidak perlu diingat, sudah bukan hari bersejarah lagi, karena dia yang adalah objek dari hari ini udah gak ada lagi, udah gak bisa mengukir hidupnya lagi, udah 3 tahun yang lalu menyudahi semua ceritanya yang entah apa rasanya. Lagi dan lagi ini masih terasa seperti mimpi buat gue, masih seakan tidak percaya kalau gue tidak punya kakak lagi, dan tepat pada saat gue menulis ini semua ingatan tentang dirinya berebutan masuk menuhin otak gue. Wajahnya, suaranya dan semua tingkah lakunya terasa masih hangat di ingatan gue, masih jelas sekalipun waktu memaksa gue untuk merelakannya, sangat jelas bahkan!

Dia, wanita yang diberikan Tuhan seribu hati untuk bisa berbuat sesuatu yang bener-bener baik untuk sekelilingnya. Dia, sosok yang selalu memilih untuk diam ketika ada di situasi yang tidak menyenangkan. Dia, orang yang selalu menyediakan bahunya ketika gue sedang tertidur di mobil. Dia, orang yang tidak pernah memarahi atau membentak gue layaknya seorang kakak. Dia, pribadi yang luar biasa pemaaf sekalipun gue bersikap tidak baik. Dia, orang yang seumur hidup gue belum sempet bilang kalo gue sayang dia. Dia, satu-satunya yang telah membuat penyesalan paling besar di dunia pada diri gue sendiri karena belum sempet bikin sesuatu yang membahagiakan dirinya sebagai kakak gue. Dia dia dia dia dan dia, gak akan pernah bikin hati gue lega dan merasa termaafkan sampai kapanpun, semumur hidup gue!

Air mata gue selalu memaksa untuk keluar ketika gue mengingat dia, entah bagaimana rasa ini bisa gue essaykan supaya gue bisa menghapus rasa bersalah dan penyesalan ini. Kalau aja Tuhan ngasih gue 1 kesempatan, 1 kali aja, gue pengen bgt bisa ngasih tau dia yang sudah tiada kalau gue sayang dia, kalau dibalik semua keangkuhan gue sebagai adik adalah salah satu cara gue untuk mencuri sedikit banyak perhatiannya, dan kalau semua masalah dan perselisihan yang pernah ada antara gue dan dia itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan kagum gue akan pribadinya. Andai aja dia tau, andai gue sempet ngungkapin ini semua ke dia.



Dear Nancy Lidya Siregar,

Udah 3 tahun elo ninggalin kita semua di sini, elo memilih untuk bahagia disana, bener-bener bahagia, tanpa tangisan, tanpa rasa sakit bahkan tanpa desakan apapun yang memaksa elo untuk berbuat dosa di bumi ini. Entah apa yang sebenernya gue rasain saat Tuhan memutuskan untuk memanggil elo, tapi satu hal yang pasti, ada bagian dalam diri gue yang ikut pergi, yang sampe sekarang gue merasa kalau semuanya tidak bisa selesai, tidak akan pernah. Elo, adalah kakak terbaik di dunia ini, elo orang yang luar biasa sabar menghadapi dunia ini lengkap dengan pergumulannya, elo paling jago menapaki sendiri setiap kecemburuan dan kekecewaan lo akan kehidupan lo, elo luar biasa banget, dan mungkin karena alasan itu Tuhan memilih untuk mengambil elo kembali untuk melindungi elo dari ketidakadilan kehidupan yang sering elo tangisi. Terkadang elo memang terlihat menyebalkan ketika elo memilih untuk diam dari setiap permasalahan yang pernah terjadi di antara kita, tapi elo adalah orang yang berjiwa besar untuk mau mengembalikan semua keadaan yang mungkin terasa pahit buat kita, entah ilmu apa yang elo miliki, tapi semua cara lo menghadapi dunia terlebih gue yang bikin gue tidak bisa berkomentar apapun, senyuman lo yang gak pernah habis untuk sekeliling lo sekalipun elo merasa siapapun tidak bersahabat untuk lo yang membuat gue dan semua merasa sangat kehilangan lo dan suatu penghargaan yang memang pantas kita ucapkan adalah "Nancy, our smiling sister". Senyum lo akan selalu gue ingat di ingatan gue yang terbatas ini, suara lo yang khas gak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun dan nama lo akan selalu terukir, baik di hati gue maupun di batu nisan yang sekarang menyisakan banyak kenangan tentang elo. Maafin gue untuk setiap kata yang belum pernah elo denger dari mulut gue, dan terima kasih telah menjadi sosok luar biasa dalam hidup gue sekalipun itu hanya 20 tahun.

P.S I LOVE YOU.





l o v e,
Defi Octaviany

Senin, 27 Juni 2011

Cinta Begini

Terinsipirasi dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok penyanyi yang bernama Tangga, gue akhirnya memposting sebuah tulisan berjudul "Cinta Begini". Seperti yang gue dan semua orang ketahui, lagu cinta begini bercerita tentang si pihak ke-tiga, si pihak yang hanya berhak mendapatkan sisa waktu dari si pemeran utama, si pihak yang tidak akan pernah diprioritaskan dan si pihak yang juga sebenernya punya rasa yang sama atau bahkan lebih dari pemeran utama itu. Hah, posisi yang tidak enak intinya, yang kadang menjadi bagian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, tapi ketika kita berada di suatu keadaan yang akhirnya mengantarkan kita pada posisi itu, gue yakin siapapun ingin sekali menolak namun terkadang rasa ingin tetap ada si situ lebih besar. Rumit!
Keadaan yang selalu ada adalah si pihak atau orang ke-tiga yang selalu menjadi "dia yang bersalah", yang disebut-sebut sebagai penghancur hubungan orang lain, malah lebih parah dikatakan sebagai orang yang tidak punya perasaan, yang tanpa diketahui dengan jelas ternyata si pihak ke-tiga adalah orang yang juga punya perasaan yang sama, punya rasa yang meluap-luap juga, namun mungkin waktu, keadaan dan posisi yang kurang bersahabat dengannya. Tapi dengan alasan apapun dan dengan pembelaan apapun tetap saja si pihak ke-tiga tidak akan pernah dibenarkan, tidak akan pernah! Malah opini terparah yang mungkin akan didapatkan adalah: cuma sebagai intermezzo doang buat hubungan mereka. Tragis!

Alasan kuat kenapa pada akhirnya gue memposting tulisan ttg ini adalah karena beberapa waktu yang lalu gue pernah ada di posisi ini, bukan, gue bukan jadi pasangan yang hubungannya sedang diganggu oleh orang ke-tiga, tp gue adalah orang yang menjadi si orang ke-tiga itu, gue hanya menjadi intermezzo di saat laki-laki itu sedang jenuh dengan hubungannya yang udah terlalu lama, gue hanya jadi pelengkap cerita hidupnya yang selama ini terlihat datar-datar saja, gue lagi dan lagi harus puas oleh keputusan: gue sayang elo tapi maaf kita gak akan bisa sama-sama, sampai kapanpun! Ya, sangat menyedihkan, serius! Tiap hari dia emang intens, intens banget hubungin gue, pesan blackberrynya selalu masuk ke gue, pesan singkat YMnya juga gitu, dan dia juga gak pernah ragu untuk membagi waktunya buat ketemu gue, gak pernah nolak ketika gue ngajak dia ngelakuin hal-hal konyol yang sering kita lakuin untuk ngebunuh waktu kita, dan tidak pernah keberatan untuk seolah-olah menjadi pacar gue ketika dia lagi bareng gue, tapi tetep aja itu semua gak ngerubah apapun, gak ngerubah status dia yang bukan pacar gue melainkan pacar orang lain! Gue gak bisa bilang kalo gue tidak menikmati setiap kebersamaan yang gue punya bareng dia, gue gak bisa bohong kalo untuk setiap sentuhan yg dia berikan ke gue tidak menimbulkan rasa apapun buat gue, dan sebenernya gue juga liat kenyamanan yang dia rasakan, kenyamanan ketika kita lagi sama2, ketika dia mengingatkan berbagai hal ke gue, sangat tidak mungkin kalau dia cuma biasa aja ke gue, kalo emang status temenan itu pure dia artikan sebagai temen! Huh!

Tapi entah kenapa di tiap keadaan Tuhan kaya mau ngasih tau gue kalo laki-laki yang selama ini menjadi obat kenyamanan gue itu adalah laki-laki yang brengsek, laki-laki yang hanya membutuhkan sensasi baru dari kehidupannya yang belakangan mulai terasa biasa-biasa aja, dan juga laki-laki yang pada akhirnya terjebak pada perasannya sendiri dan terlihat bangga kalau ternyata dia masih punya "the only one"nya ketika dia harus kehilangan gue! Oke, gue bukannya tidak tau kalo dia sudah punya perempuan lengkap dengan masa pacaran 4 tahunnya, gue juga gak bego kalo hanya dalam hitungan tahun mereka akan menikah, tp demi kekuatan apapun gue gak bisa untuk melepaskan dia lengkap dengan title "brengseknya". Cuma di sini gue mau bilang kalo Tuhan masih baik sama gue, ada aja cara buat ngasih tau gue kalo emang bukan dia yang pantes dan baik buat gue, dan di sini gue sangat percaya dengan istilah "ini emang udah jalannya Tuhan". Iya, sekitar beberapa bulan yang lalu akhirnya hubungan tanpa status yang manis itu harus puas berakhir begitu saja, laki-laki yang memang sangat takut kehilangan perempuannya akhirnya dengan jelas bilang ke gue kalo kita harus menyudahi semuanya dengan alasan dia yang akan memulai hidup baru dengan perempuannya di tahun depan, dia yang dengan entengnya membeberkan semuanya seakan2 gue adalah orang yang tercipta tidak dengan perasaan apapun! Ya, pada akhirnya semuanya emang harus berakhir, dan mungkin bener-bener melalui orang lain kita bisa menyudahi semuanya, yang lebih tepatnya adalah ketika perempuannya mengetahui kalau gue dan dia punya kedekatan "lagi" seperti beberapa tahun yg lalu. Kenapa lagi? Karena dulu, gue dan dia juga pernah deket, deket banget, tapi lagi dan lagi emang mesti saling berjauhan karena statusnya yang adalah pacar orang, sampai sekarang!

Well, yang ingin gue bahas di sini bukan detail dari kisah gue yang pait dan menye-menye itu, tapi gue pengen untuk setiap orang yg baca blog ini bisa tau dan ngerti sensasi dari posisi si pihak ke-tiga itu, yang entah dari sisi mana bisa dibilang betul dan dari segala sisi dibilang salah. Yang ternyata keterlibatan menjadi pihak ke-tiga bukannya unsur dari kesengajaan, melainkan segala faktor kedekatan yang dulu dinamakan pertemanan membawa pada satu rasa yang pada akhirnya menjadi komplikasi dan tepat pada posisi yang salah. Si dia laki-laki yang juga sangat pandai untuk menciptakan suasana, yang seakan-akan tidak pernah menomor duakan si pihak ke-tiga, yang terlihat seperti selalu menyediakan segala waktu dan kenyamanan untuk orang ke-tiga tanpa mendapatkan gangguan apapun dari perempuannya yang mungkin sudah dibumbui dengan sejuta alasan yang membuat perempuan tersebut percaya 1000% untuk tidak menggangu lelakinya dalam beberapa jam yang padahal sedang membagi waktu dengan perempuan lain yang membawanya pada sensasi dan kenyamanan yang berbeda. Apapun itu, sejauh ini gue tidak pernah menyalahkan adanya keberadaan menjadi si orang ke-tiga, karena gue sangat yakin diri sendiripun enggan untuk menyelesaikan semuanya, terlalu takut untuk kehilangan "obat kenyamanan" itu dan terlebih parahnya lelaki pemberi kenikmatan seolah menyediakan segala sesuatunya yang mengantarkan pada titik kenyamanan. Dan memang pada akhirnya "ini emang udah jalannya Tuhan" yang akan memberi keputusan terakhir.


Aku bisa terima
Meski harus terluka
Karena kuterlalu, mengenal hatimu

Aku telah merasa
Dari awal pertama
Kau tak kan bisa lama, berpaling darinya

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar
Tuk sementara

Chorus:
Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani
Cinta begini

Kar'na cinta tak akan ingkari
Tak kan berbagi
Kembalilah pada dirinya
Biarku yang mengalah

Aku terima

Saatnya kembali, nurani bicara

Ku tak bisa terima
Bila terus tak setia
Mengkhianati dia, menduakan cinta

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah
Sekedar tuk sementara

Sebentar kutelah kecewa
Biarlah aku pergi
Nikmati luka ini
Perih ini sendiri




l o v e,
Defi Octaviany

Rabu, 22 Juni 2011

Ini yang Namanya Hidup

Kita sebagai manusia gak pernah tau hidup itu kaya apa, kita gak tau juga hidup itu baiknya disebut sebagai sahabat atau malah sebaliknya. Kita hanya tau bagaimana kita harus mengikuti pola kehidupan ini supaya kita tetep survive sekalipun kadang hidup itu ada di satu titik yang namanya KEJAM. Hidup itu indah, sebagian orang sependapat akan hal ini, hidup itu sulit, ya, mungkin tidak sedikit yang setuju, hidup itu teka teki, tepat sekali, gue setuju dengan pernyataan terakhir ini. Gue dan siapapun yang ada di dunia ini mungkin gak akan pernah bisa tau kehidupan di kedepannya itu kaya apa, gak pernah bisa menerka-nerka akankah hidup di esok hari itu menyenangkan atau memusingkan, gak akan bisa nebak kita akan ada di bawah atau di atas, ya hidup adalah roda, yg memungkinkan kita untuk berada di bawah maupun di atas, penuh dengan teka teki!

Tapi dari hidup itu sendiri kita belajar banyak hal, belajar buat mempelajari, mengerti dan menerima, semua aspek komplit kita dapetin di satu kata yang namanya hidup. Sebenernya gue di sini agak berat nulis serangkaian kata dan kalimat mengenai hidup itu sendiri, karena ini adalah topik yang sensitif, yang setelahnya gue yakin akan mengundang pro dan kontra dari banyak orang, tapi gue cuap-cuap di sini bukan untuk membentuk forum pro dan kontra itu sendiri, gue hanya ingin bercerita tentang pemahaman gue tentang hidup itu sendiri.

21 tahun belakangan ini gue belajar banyak banget tentang hidup yang gue jalanin, setiap hari gue merasakan sensasi yang berbeda-beda, yang kadang gue bisa bilang kalo gue cinta banget sama hidup gue, gue bersyukur banget, gue bahagia banget, tapi di lain situasi gue sangat mengutuki hidup gue lengkap dengan semua kepahitan dan kegagalannya. Hidup gue dibumbui dengan segala rasa, rasa yang pada akhirnya menuntut gue untuk lebih dewasa dan rasa yang juga terkadang membuat gue untuk pura-pura mati rasa! Gak jarang gue terjebak akan permainan hidup ini, akan setiap kokomplikasiannya dan pada titik terparah gue seakan pengen punya remote yang bisa gue gunakan untuk mengendalikan hidup gue, untuk membuat semuanya berjalan baik-baik aja, tanpa kekecewaan, tanpa kedukaan dan tanpa air mata!

Tapi semakin ke sini entah kenapa terkadang gue menikmati tiap masalah yg gue punya, gue menyukai ketika hidup memaksa gue untuk menangis, untuk memutar otak gue, dan untuk mendesak gue berpikir jauh lebih baik dan bijaksana, ya, mungkin untuk itulah masalah tercipta. Untuk membentuk pribadi yang "megah" buat hidup gue sendiri, untuk menyadarkan gue juga supaya gue gak lupa untuk bersyukur, dan membuat gue lebih mengerti kalo ternyata gue terkadang memang harus mengandalkan orang lain, yang minimal bisa gue jadiin sandaran untuk gue nangis kemudian berbagi tentang hidup yang katanya luar biasa ini..




l o v e,
Defi Octaviany

Jumat, 18 Februari 2011

Dia Sahabat

Agak berat ketika gue mesti nulis kata sahabat, entah kenapa. Mungkin artinya yang terlalu rumit dan berat atau mungkin juga gue yang terlalu gak bisa memahamin sahabat itu lebih tepat diartikan kemana dan bagaimana. Apapun itu, yang jelas gue merasa kalau gue memiliki sahabat, yang artian sahabat itu sendiri hanya ada dalam pemahaman gue.

Well, di sini gue mau cerita tentang seorang sahabat gue, dengan persahabatan yang udah kita bina hampir 6 atau 7 tahun lamanya. Perkenalan sahabat ini terjadi dari hal yang biasa-biasa aja, yang akhirnya membuat kita mengenal antara satu dengan yang lain dan membumbui rasa persahabatan itu dengan cerita, ceria dan harapan. Tawa yang kita miliki untuk melengkapi rasa itu selalu menjadi awalan yang baik untuk menumbuhkan rasa percaya dan kesetiaan antara satu dengan yg lain. Dari situ, kita memulai cerita yang kita sama-sama tau kalau kita enggan untuk mengakhirinya, sampai kapanpun! Saling melengkapi, ya itu adalah bumbu yang paling kuat dalam panggung ini, dimana gue yang selalu ketus di imbangi dia yang agak lembek, gue yang tidak berperasaan diimbangi dia yang selalu berpikir tentang perasaan itu sendiri, dia yang agak cuek dan agak tidak teratur sangat terbalik dengan gue yang amat memperdulikan peraturan dan disiplin, gue yang sangat berpenampilan perempuan dan dia yang lebih cuek akan penampilannya, gue dan dia, punya banyak perbedaan!

Tapi kita juga punya segudang kesamaan yang kita tau itu adalah jurus yang ampuh untuk mempertahankan persahabatan kita. Di sini gue dan dia sama-sama belajar banyak untuk saling memahami, belajar untuk mengalah, belajar untuk berbagi, belajar untuk ikut merasakan, belajar untuk sabar dan belajar untuk memaafkan. Hufh, dan untuk yang terakhir itu gue mau bilang kalo saat ini gue amat sulit untuk melakukannya!

Oke, soal memaafkan! Ini mungkin keliatannya sepele atau juga terkesan mudah untuk elo yg merasa kalau itu adalah satu hal penting yg harus elo lakuin untuk persahabatan elo. Ya, gue memang sependapat untuk itu, sungguh! Tapi tolong kasih gue celah untuk memberikan sedikit pembelaan diri atau terserahlah lebih tepatnya apa, untuk ngomong kalo ternyata ada saat dimana memaafkan itu menjadi hal yang sulit dalam dunia persahabatan elo. Gue egois? Engga juga kok! Semua logika pasti setuju kalo gue bilang untuk setiap hal itu semuanya ada batesannya. Ya, sama aja dengan hal memaafkan ini, gue merasa kaya kesabaran gue atau hal mulia untuk memaafkan itu udah habis, atau mungkin bukan habis, tapi sedang kemarau! Dan please jangan pernah bilang ini adalah suatu keegoisan, melainkan ini adalah pelampauan kesabaran gue sebagai manusia.

Jadi gini, seperti yang gue bilang di atas tadi, gue dan sahabat gue punya beberapa hal yang membedakan karakter kita, terutama dalam bidang emosional. Gue adalah tipe orang yang kalau gue sebel atau tidak suka akan sesuatu, gue akan bilang dan akan nunjukin kalo gue gak suka, gue akan bahas dan bicarakan itu baik-baik, gue akan bilang ke sahabat gue itu untuk saling mengoreksi. Banyak yang gak suka akan hal itu? IYA! Tapi sebenernya hal itu penting, awalnya mungkin akan keliatan menyakitkan tapi gue yakin setelah itu engga dan akan memperbaiki, karena sebagai sahabat yang baik elo harus bisa mengatakan semua hal yang baik dan tidak baik kepada sahabat lo itu, dan sekali lagi, ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menjadikan sahabat lo terlihat lebih baik di kedepannya. Oke, kembali ke memaafkan tadi, masalah yang gue punya dengan sahabat gue ini mungkin kedengerannya sepele, bahkan amat kekanak2an, tapi untuk posisi gue pada saat itu, mungkin ini bisa diterima.

Kejadiannya beberapa minggu lalu, ketika kita lagi liburan sama-sama ke luar kota. Liburan yang singkat, tapi gue menyukainya, karena udah lama banget kita merencanakan untuk liburan sama-sama. Di liburan kali ini gue menawarkan untuk bawa si Pinkan dan tidak keberatan kalau gue yang nyetir (berhubung pada gak bisa nyetir manual), gue ngelakuin itu dengan senang hati, tapi dengan kesepakatan bahwa tidak boleh ada yang tidur selama perjalanan, ya itung-itung yang lain ikutan memantau jalanan dan menemani gue yang saat itu nyetir dengan jarak yang tidak dekat. Semua sependapat akan hal itu, namun sesekali mereka menggoda gue dengan mengatakan "ah gue tidur ah", kata-kata itu gue bales dengan lelucon yang memuakkan juga, karena buat gue kata-kata itu cukup memuakkan, ya gimana engga, nyetir manual pulang pergi jakarta - bandung itu kan bukan jarak tempuh yang sebentar, tapi ya gue tidak ambil pusing untuk itu, karen buat gue impas, 1-1, olokan yang memuakkan dengan jawaban yang memuakkan. Well, itu bukan point utama yang membuat perasaan gue agak sedikit tersinggung dan bikin mood gue drop, beneran bukan itu!

Jadi gini, sahabat gue yang tadi gue sebut-sebut di atas adalah tipe orang yang emosinya sangat tipis, dengan kata lain terlalu sensitif! Buat orang-orang yang kenal dia pasti sependapat sama gue akan hal ini. Bukannya gue tidak menerima setiap kekurangan dan kelebihan dia, engga sama sekali, dan bukannya gue tidak pernah melukai dia atau punya salah sama dia, itu juga engga, tapi mungkin keadaan saat itu yang membuat otak gue buntu dan diri gue didominasi oleh iblis yang gak punya hati. Suatu ketika, tiba-tiba kesensitifannya keluar, yang sumpah, siapapun yang lagi disensiin kaya gitu pasti bete berat. Dan ini bukannya sekali dua kali dia kaya gini, ini sering banget, ibaratnya ini udah mendarah daging sama dirinya. Selama ini kalo dia lagi bete, dia lagi sensi dan menyebalkan, gue selalu berusaha untuk membujuk dia, gue terlalu takut kehilangan sahabat gue jadi prinsip gue adalah, sekalipun mungkin gue gak salah ataupun siapapun yang udah buat dia ngerasa ga nyaman, gue akan berusaha untuk mengembalikan mood dia, untuk menceriakan dia lagi dan mengembalikan dia pada karakternya yang utuh. Gue tulus ngelakuin itu, dan gue bersyukur hampir 80% gue berhasil melakukannya. Tapi entah kenapa saat itu jiwa gue melayang jauh, entah kenapa saat dia mulai mengeluarkan sifatnya yang menyebalkan itu gue gak bisa terima, dan sungguh gue menyesal, otak gue bilang kalo ternyata sahabat gue itu tidak bisa menghargai gue sebagai sahabatnya, sorry kalo nanti akhirnya gak sependapat sama gue, tapi ini emang yang gue rasain saat itu.
Ketika kita mau pulang, ada satu pertanyaan yang gue lemparkan ke dia dan dia jawab dengan nada yang menyebalkan, dan di situ dia menegaskan kalo gak pernah jadi masalah dia sensi atau tidak. Ya, itu emang bukan masalah dia, tapi itu akan jadi masalah orang-orang sekitarnya, yang adalah gue! Kalaupun saat itu ada hal yang bikin dia marah atau tersinggung karena gue, bukankah lebih baik dia bicarakan, dibanding harus mengeluarkan jurus kesensitifannya, yang dia gak sadar kalau itu akan berakibat buruk ke yang lain. Atau minimal, kalau emang dia males untuk ngebahas itu, bisakah dia sedikit berjiwa besar untuk gak berubah jadi seseorang yang lagi mau dapet. Dan yang sangat gue sesali adalah emosi gue juga yang kaya tempe, yang buat gue mikir macem-macem, atau lebih tepatnya gue sangat tersinggung dengan sifatnya yang seperti itu. Gue berpikir, tidakkah saat itu elo menjaga mood gue, yang jelas-jelas harus mengumpulkan konsentrasi untuk nyetir selama 2 jam lebih perjalanan, tidakkah elo berpikir kalau menyetir itu hal yang melelahkan, elo aja yang hanya duduk menikmati lagu dan sekeliling merasa lelah, apalagi gue, yang harus ON banget buat nyelesain perjalanan kita sampe Jakarta. Tidak terpikirkah hal itu sama sekali, atau emosi lo yang meletup-meletup itu yang bikin elo gak bisa melihat hal-hal lebih detail? Entahlah, gue terlalu tidak pandai untuk membaca pikiran seseorang. Saat itu, yang gue harapkan hanyalah kita semua bisa menjaga mood antara satu dengan yang lain dan menciptakan tawa dan keakraban, bukannya situasi jelek kaya gitu. Satu kali aja, beneran satu kali itu aja gue mengharapkan dia bisa menyimpan itu semua dengan manis, setelah itu, dia mau mencaci maki gue pun gue tidak akan marah dan gue tidak akan berpikir hal-hal yang jelek. Tapi ya sangat disayangkan sekali ternyata bukan hal baik yang terjadi, melainkan dia yang terlalu menunjukkan kesensitifannya dan gue yang juga terpancing oleh hal bodoh itu. Ya, gue merasa sangat bodoh ketika gue melakukan itu. Dan kalau boloeh gue memberikan sedikit pembelaan, tidak bisakah dia bersikap seperti orang yang agak dewasa, yang satu kali aja memikirkan perasaan orang lain, yang hari itu saja bisa bersandiwara akan perasaannya, ya, semoga suatu saat dia bisa. Saat itu, di hari yang jelek banget itu, gue ingin sekali menangis, gue menyumpahi diri gue sendiri yang terlalu terbawa perasaan, gue benci hari itu, hari dimana gue menumpukkan sejuta kekesalan, hari dimana gue merubah prinsip gue untuk mencoba merayu dan mengejarnya ketika moodnya lagi tidak baik, hari yang membuat gue berpikir kalau sebuah tembok harus gue bangun. Di perjalanan pulang dengan pahit gue berbisik dalam hati kalau sudah tidak ada lagi kesabaran untuk dia, kalau semuanya harus diberi ketegasan, yang gue berharap itu akan membuat dia berpikir akan setiap hal yang akan dia lakukan, terutama buat orang lain. Saat itu, harumnya persahabatan harus gue hancurkan dengan keiblisan gue!

Ya, dengan berat hati gue tidak menggubris setiap tweetan dia, gue pun pura-pura tidak tau akan pesan singkat yang dia kirimkan ke gue via YM, gue berusaha mati-matian untuk mati rasa dan mengubur dalem-dalem rasa manis akan nikmatnya persahabatan itu. Gue membuat kesepakatan kepada diri gue sendiri kalau untuk saat ini gue enggan untuk membina hubungan itu dulu, kalau gue ingin dia berpikir bahwa tidak selamanya lingkungan yang harus menyesuaikan dia, kalau sekali-sekali dia yang harus menyesuaikan lingkungan di tempat dimana dia berada, kalau ternyata tidak selamanya lingkungan atau siapapun bisa memahami dia dan mengalah untuk dia, gue ingin sekali dia agak terbeban untuk itu.

Di sini, gue akan tetep menjadi sahabatnya, gue akan selalu mendukung setiap keputusan yang dia bikin, gue akan tetep bilang salah kalo dia salah, gue juga akan mengacungkan jempol ketika dia terlihat hebat dan akan tetep mau menjadi sandarannya ketika dia merasa kalau dunia ini sedang tidak adil untuknya. Gue selalu berdoa gue dikasih kebijaksanaan yang luar biasa dan pengertian yang lebih untuk semua sahabat yang gue punya. Untuk dia yang disana, semoga kita bisa menjadi bijak dan bisa lebih memahami akan pahit manisnya persahabatan ini.




l o v e,
Defi Octaviany

Kamis, 06 Januari 2011

Sebuah Rasa

Inget blog yg gue posting sekitar bulan September akhir? Yang di situ gue cerita mengenai gue dengan seluk beluk usaha gue untuk menjadi seorang PA VP. Oke, ini bulan ke 3 gue jadi PA VP Gas, dan di bulan ini juga gue telah merasakan apa yang namanya "kenyamanan" atas hubungan gue dengan boss gue. Kita punya karakter yang sedikit banyak sama, punya kebiasaan yang hampir sama juga, dan dengan zodiak yang serupa membuat kita menjadi hampir merasa cocok antara satu dengan yang lain. Tapi ternyata gak selamanya keseragaman itu berdampak positif, karena untuk beberapa hal kita butuh sesuatu yang berbeda yang akhirnya bisa melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dan hal itu terjadi di kehidupan pekerjaan kita, seringkali boss gue marah karena ketidakpuasannya atas pekerjaan gue, hal-hal yang menurut gue simple ternyata tidak buat dia, hal-hal yang sering terlupakan oleh gue ternyata menjadi bumerang sekali karena dia juga tipe orang yang mudah lupa, keseragaman itu kini menjadi batu sandungan di hubungan kami. Tak jarang dia berbicara dengan nada keras kepada gue, menyeritkan alis, menyipitkan mata, dan akhirnya menyuruh gue keluar dari ruangannya. Dan setelah itu apa kabarnya gue?! Sedih? Nangis? Bete? Sebel? Ya, kesemuanya itu jadi campur aduk dan terkadang membuat gue enggan untuk berinteraksi dengan boss gue. Tapi layakanya orang dewasa bersikap, dia mencoba untuk mendekat lagi kepada gue dan menetralkan hal-hal yang buruk tadi, cukup berjiwa besar memang, dan hal-hal kecil ini yang bikin gue jatuh cinta sama dia.

Cuma sayangnya buih-buih kebersamaan itu harus luntur seketika, terlalu singkat bahkan, pengenalan yang sudah cukup mendalam dan rasa yang mengebu-gebu harus selesai ketika dia memutuskan untuk pergi meninggalkan gue, kami, di sini, di tempat dimana dia belajar menjadi sesorang yang bijaksana, di tempat ia mengeluhkan setiap keletihannya lewat raut wajahnya, di tempat gue dan dia memulai cerita yang kita harus puas kalau ini semua hanya sebentar saja. Dan hari ini, hari dimana hari pertama gue tau keadaan yang sebenarnya, hari dimana ketika gue sampai kantor gue melihat mejanya yang kosong dan akan terus seperti itu, hari dimana hal yg gue lakukan ketika gue duduk di bangku yang biasa gue tempatin untuk berkomunikasi dengan dia gue menangis tersedu-sedu, hari dimana semua mata menatap gue dengan raut "pertanyaan" dan hari dimana gue melihat sejumlah orang bersedih untuk keputusan itu. Kehilangan! Mungkin itu kata yang tepat yang bisa menggambarkan keadaan gue dan beberapa orang di sini. Sekilas gue teringat akan sosoknya ketika dia sedang berbicara, sedang mencoba tersenyum sebaik mungkin, bahkan sedang menegangkan wajah tanda keseriusan atau kekecewaan. Semuanya masih jelas banget di ingatan gue, semuanya lagi dan lagi membuat gue seperti tersambar petir lalu kehilangan arah. Untuk kedua kalinya gue menangis dan untuk kesekian kalinya gue menahan air mata ketika beberapa orang menanyakan keberadaannya.

Kenapa harus seperti ini? Kenapa terkesan terburu-buru? Kenapa tidak dipikirkan lagi? Rentetan pertanyaan yang berkecamuk di kepala gue dan terjawab semua olehnya. "Tidak ada kesan terburu-buru, semua sudah dipikirkan" begitu katanya. Jawaban yang santai namun pasti, yang membuat siapapun yang mendengarnya gak akan membantah bakhan menciptakan pertanyaan baru. Dan sekarang hati gue bener-bener acak-acakan, gue seperti tidak siap dan cenderung takut akan kehilangan ini, gue seperti orang yang kehilangan arah dan sesungguhnya hanya ingin duduk di sudut untuk menikmati perihnya rasa ini. Sungguh, gue seakan terhanyut oleh sebuah tontonan drama cengeng, yang pada akhirnya membuat gue ingin menghentikan tontonan itu secepat mungkin dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih bahagia. Tapi, ternyata gue tidak terlalu punya kuasa untuk menghentikan dan merubah itu semua, surat permohonan pensiun dini sudah diproses, e-mail perpisahan telah terkirim dan segala urusan administrasi sedang dikerjakan. Gue bener-bener tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk menghibur diri gue sendiri pun gue tidak mampu!

Satu kutipan yang gue dapet dari dia, dalam sebuah blog..

"Bahwa kepergian dan kisah yang pernah ada merupakan ikatan benang merah di antara kita adalah selalu menjadi harapan, walau semakin lama semakin terasa tidak perlu"


Ya, semoga tiap rasa yang pernah ada bisa menjadi harapan, sekalipun semakin lama akan terasa tidak perlu. Doaku akan selalu untukmu, Pak. Sampai jumpa di lain kondisi dan posisi!



l o v e,
Defi Octaviany