Hari ini, 31 Juli 2011, lagi-lagi gue merasakan kegalauan luar biasa, hari ini rasa yang pernah hampir ingin gue kubur dalam-dalam 2 tahun yang lalu akhirnya datang lagi, keGALAUan ini, keRESAHan ini akhirnya gue rasakan kembali, sungguh hari yang tidak bersahabat, sungguh hari yang luar biasa tidak baik. Ya, semua kejadian itu terulang lagi, percis, hampir sama. Tidak adanya kabar, putusnya telekomunikasi dan rasa gelisah ini kembali menjadi pelengkap hari ini.
Belum genap sebulan hubungan ini kami jalani, tapi entah kenapa terkadang ego yang lebih mendominasi di antara kami, entah apa yang salah sehingga rasa sayang itu tidak dapat berkuasa di tiap gelintiran masalah yang ada. Gue benci merasa disia-siakan, gue benci merasa tidak dianggap, gue benci memohon dan mengemis untuk satu rasa yang namanya "cinta", gue benci menangis! Apakah kadang ketidakberdayaan wanita menjadikan dirinya harus merengek demi suatu ikatan, apakah perempuan yang katanya lemah dan berperasaan itu harus puas menyelesaikan kisahnya dengan air mata? Dan apakah setelah air mata dan rengekan itu semua keadaan pada akhirnya akan menjadi baik, semua akan kembali seda kala, dan rasa yang tadinya meluap-luap itu pada akhirnya akan kembali pada porsinya masing-masing? Semua keterbatasan gue sebagai perempuan membuat banyak hal yang pada akhirnya menjadi batu sandungan buat hubungan yang pernah dan sedang gue alami. Sifat perfeksionis, sensitif, ingin selalu di nomor satukan membuat gue kalah dengan setiap logika yang dipunya laki-laki.
Gue, yang terkadang terlalu berlebihan menilai sesuatu, gue yang katanya terlalu tidak bisa mengerti kemauannya, gue yang harus peduli sekalipun dirinya terlihat terlalu cuek, gue yang harus bertanya dimana dan sedang apakah dirinya, gue yang sekarang harus puas tidak mendapatkan respon untuk setiap sms dan panggilan telv, dan gue adalah orang yang merana malam ini. Setiap lembaran harga diri udah gue robek demi mencuri perhatiannya lagi, untuk setiap perkataan baik yang paling manis ataupun terpahit pun sudah gue keluarkan, untuk tangisan yang amat sendu pun sudah, tapi itu pun tidak mengobati keadaan, tidak juga meluluhkan hatinya. Apa lagi yang salah? Dimana lagi yang salah? Harus bagaimana lagi rasa memohon ini harus gue essaykan?
l o v e,
Defi Octaviany
I love to share everything that I know and all the things about me, you and our lovely life. Just stay tuned and you'll find something interesting that will make you feel at home to keep reading.
Welcome to My Paradise..
Hell o readers!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!
Minggu, 31 Juli 2011
Rabu, 13 Juli 2011
Mengenang Dia yang Telah Pergi
Hari ini, 13 Juli 2011, tepat hari dimana seharusnya dia yang telah pergi merayakan hari kelahirannya, hari ini semestinya kami bernyanyi lagu "Selamat Ulang Tahun", hari ini seharusnya dia meniup lilin pada angka 23, hari ini hari ini hari ini dan seharusnya. Sedih! Jujur entah apa dan bagaimana perasaan gue saat ini, disaat gue harus mengingat hari bersejarah ini, gue juga harus tersadarkan oleh kenyataan kalau ternyata hari ini sudah tidak perlu diingat, sudah bukan hari bersejarah lagi, karena dia yang adalah objek dari hari ini udah gak ada lagi, udah gak bisa mengukir hidupnya lagi, udah 3 tahun yang lalu menyudahi semua ceritanya yang entah apa rasanya. Lagi dan lagi ini masih terasa seperti mimpi buat gue, masih seakan tidak percaya kalau gue tidak punya kakak lagi, dan tepat pada saat gue menulis ini semua ingatan tentang dirinya berebutan masuk menuhin otak gue. Wajahnya, suaranya dan semua tingkah lakunya terasa masih hangat di ingatan gue, masih jelas sekalipun waktu memaksa gue untuk merelakannya, sangat jelas bahkan!
Dia, wanita yang diberikan Tuhan seribu hati untuk bisa berbuat sesuatu yang bener-bener baik untuk sekelilingnya. Dia, sosok yang selalu memilih untuk diam ketika ada di situasi yang tidak menyenangkan. Dia, orang yang selalu menyediakan bahunya ketika gue sedang tertidur di mobil. Dia, orang yang tidak pernah memarahi atau membentak gue layaknya seorang kakak. Dia, pribadi yang luar biasa pemaaf sekalipun gue bersikap tidak baik. Dia, orang yang seumur hidup gue belum sempet bilang kalo gue sayang dia. Dia, satu-satunya yang telah membuat penyesalan paling besar di dunia pada diri gue sendiri karena belum sempet bikin sesuatu yang membahagiakan dirinya sebagai kakak gue. Dia dia dia dia dan dia, gak akan pernah bikin hati gue lega dan merasa termaafkan sampai kapanpun, semumur hidup gue!
Air mata gue selalu memaksa untuk keluar ketika gue mengingat dia, entah bagaimana rasa ini bisa gue essaykan supaya gue bisa menghapus rasa bersalah dan penyesalan ini. Kalau aja Tuhan ngasih gue 1 kesempatan, 1 kali aja, gue pengen bgt bisa ngasih tau dia yang sudah tiada kalau gue sayang dia, kalau dibalik semua keangkuhan gue sebagai adik adalah salah satu cara gue untuk mencuri sedikit banyak perhatiannya, dan kalau semua masalah dan perselisihan yang pernah ada antara gue dan dia itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan kagum gue akan pribadinya. Andai aja dia tau, andai gue sempet ngungkapin ini semua ke dia.
Dear Nancy Lidya Siregar,
Udah 3 tahun elo ninggalin kita semua di sini, elo memilih untuk bahagia disana, bener-bener bahagia, tanpa tangisan, tanpa rasa sakit bahkan tanpa desakan apapun yang memaksa elo untuk berbuat dosa di bumi ini. Entah apa yang sebenernya gue rasain saat Tuhan memutuskan untuk memanggil elo, tapi satu hal yang pasti, ada bagian dalam diri gue yang ikut pergi, yang sampe sekarang gue merasa kalau semuanya tidak bisa selesai, tidak akan pernah. Elo, adalah kakak terbaik di dunia ini, elo orang yang luar biasa sabar menghadapi dunia ini lengkap dengan pergumulannya, elo paling jago menapaki sendiri setiap kecemburuan dan kekecewaan lo akan kehidupan lo, elo luar biasa banget, dan mungkin karena alasan itu Tuhan memilih untuk mengambil elo kembali untuk melindungi elo dari ketidakadilan kehidupan yang sering elo tangisi. Terkadang elo memang terlihat menyebalkan ketika elo memilih untuk diam dari setiap permasalahan yang pernah terjadi di antara kita, tapi elo adalah orang yang berjiwa besar untuk mau mengembalikan semua keadaan yang mungkin terasa pahit buat kita, entah ilmu apa yang elo miliki, tapi semua cara lo menghadapi dunia terlebih gue yang bikin gue tidak bisa berkomentar apapun, senyuman lo yang gak pernah habis untuk sekeliling lo sekalipun elo merasa siapapun tidak bersahabat untuk lo yang membuat gue dan semua merasa sangat kehilangan lo dan suatu penghargaan yang memang pantas kita ucapkan adalah "Nancy, our smiling sister". Senyum lo akan selalu gue ingat di ingatan gue yang terbatas ini, suara lo yang khas gak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun dan nama lo akan selalu terukir, baik di hati gue maupun di batu nisan yang sekarang menyisakan banyak kenangan tentang elo. Maafin gue untuk setiap kata yang belum pernah elo denger dari mulut gue, dan terima kasih telah menjadi sosok luar biasa dalam hidup gue sekalipun itu hanya 20 tahun.
P.S I LOVE YOU.
l o v e,
Defi Octaviany
Dia, wanita yang diberikan Tuhan seribu hati untuk bisa berbuat sesuatu yang bener-bener baik untuk sekelilingnya. Dia, sosok yang selalu memilih untuk diam ketika ada di situasi yang tidak menyenangkan. Dia, orang yang selalu menyediakan bahunya ketika gue sedang tertidur di mobil. Dia, orang yang tidak pernah memarahi atau membentak gue layaknya seorang kakak. Dia, pribadi yang luar biasa pemaaf sekalipun gue bersikap tidak baik. Dia, orang yang seumur hidup gue belum sempet bilang kalo gue sayang dia. Dia, satu-satunya yang telah membuat penyesalan paling besar di dunia pada diri gue sendiri karena belum sempet bikin sesuatu yang membahagiakan dirinya sebagai kakak gue. Dia dia dia dia dan dia, gak akan pernah bikin hati gue lega dan merasa termaafkan sampai kapanpun, semumur hidup gue!
Air mata gue selalu memaksa untuk keluar ketika gue mengingat dia, entah bagaimana rasa ini bisa gue essaykan supaya gue bisa menghapus rasa bersalah dan penyesalan ini. Kalau aja Tuhan ngasih gue 1 kesempatan, 1 kali aja, gue pengen bgt bisa ngasih tau dia yang sudah tiada kalau gue sayang dia, kalau dibalik semua keangkuhan gue sebagai adik adalah salah satu cara gue untuk mencuri sedikit banyak perhatiannya, dan kalau semua masalah dan perselisihan yang pernah ada antara gue dan dia itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat dan kagum gue akan pribadinya. Andai aja dia tau, andai gue sempet ngungkapin ini semua ke dia.
Dear Nancy Lidya Siregar,
Udah 3 tahun elo ninggalin kita semua di sini, elo memilih untuk bahagia disana, bener-bener bahagia, tanpa tangisan, tanpa rasa sakit bahkan tanpa desakan apapun yang memaksa elo untuk berbuat dosa di bumi ini. Entah apa yang sebenernya gue rasain saat Tuhan memutuskan untuk memanggil elo, tapi satu hal yang pasti, ada bagian dalam diri gue yang ikut pergi, yang sampe sekarang gue merasa kalau semuanya tidak bisa selesai, tidak akan pernah. Elo, adalah kakak terbaik di dunia ini, elo orang yang luar biasa sabar menghadapi dunia ini lengkap dengan pergumulannya, elo paling jago menapaki sendiri setiap kecemburuan dan kekecewaan lo akan kehidupan lo, elo luar biasa banget, dan mungkin karena alasan itu Tuhan memilih untuk mengambil elo kembali untuk melindungi elo dari ketidakadilan kehidupan yang sering elo tangisi. Terkadang elo memang terlihat menyebalkan ketika elo memilih untuk diam dari setiap permasalahan yang pernah terjadi di antara kita, tapi elo adalah orang yang berjiwa besar untuk mau mengembalikan semua keadaan yang mungkin terasa pahit buat kita, entah ilmu apa yang elo miliki, tapi semua cara lo menghadapi dunia terlebih gue yang bikin gue tidak bisa berkomentar apapun, senyuman lo yang gak pernah habis untuk sekeliling lo sekalipun elo merasa siapapun tidak bersahabat untuk lo yang membuat gue dan semua merasa sangat kehilangan lo dan suatu penghargaan yang memang pantas kita ucapkan adalah "Nancy, our smiling sister". Senyum lo akan selalu gue ingat di ingatan gue yang terbatas ini, suara lo yang khas gak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun dan nama lo akan selalu terukir, baik di hati gue maupun di batu nisan yang sekarang menyisakan banyak kenangan tentang elo. Maafin gue untuk setiap kata yang belum pernah elo denger dari mulut gue, dan terima kasih telah menjadi sosok luar biasa dalam hidup gue sekalipun itu hanya 20 tahun.
P.S I LOVE YOU.
l o v e,
Defi Octaviany
Langganan:
Komentar (Atom)