Welcome to My Paradise..

Hell o readers!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!

Senin, 23 September 2013

New Chapter

Selasa, 24 September 2013

Hari ini saya membuka lembaran baru dari cerita hidup saya, lembaran yang saya yakin akan bercerita tentang kebahagiaan dan berkat yang melimpah. Hari juga juga saya yakin akan menjadi hari terakhir saya menyimpan rasa itu, kenangan itu dan semua hal tentang dia. Doa pagi ini, kesesakan pagi ini dan air mata pagi ini adalah tanda bahwa saya telah melepaskannya dengan ikhlas.

Semuanya sudah cukup, selesai, begitu katanya kemarin, aku sudah punya calon istri. Itu adalah kata perpisahan darinya yang ingin sekali saya tampar wajahnya ketika mengatakan itu. Tapi pagi ini saya bersyukur untuk setiap kalimat yang telah keluar dari mulutnya, karena kalimat itu yang bisa membuat saya menjadi kuat hari ini, kalimat itu yang membuat saya berani untuk menutup cerita itu, kalimat itu yang membuat saya yakin kalau dia memang bukan yang terbaik buat saya.




l o v e
Defi Octaviany

Selasa, 02 April 2013

Tentang Dia

Tulisan ini tentang dia, untuk dia, dan saya tulis khusus untuk mengenangnya yang kini sudah pergi dari kehidupan saya.

Dia bukanlah laki-laki yang bisa dibanggakan karena parasnya yang rupawan, bukan karena itu, tapi dia berhasil membuat saya tergila-gila kepadanya karena ketulusan hatinya, kecerdasan emosionalnya dan kemampuannya memperlakukan orang-orang disekitarnya.

Dia adalah tempat dimana saya letakkan semua rasa yang saya punya, semua harapan masa depan, dan impian-impian kehidupan sempurna lainnya.

Tapi kehidupan berkata lain..

Kami menyebut Tuhan kami berbeda, kami ternyata memiliki perbedaan yang bahkan rasa yang kami punya pun tidak mampu untuk menyelamatkan kami.

Saya kehilangan dia dengan beribu kecewa yang kami punya, saya melepaskan dia dengan kesalahan terbesar saya.

Kini saya sendiri, atau bahkan sekarang saya mencoba mengalihkan pikiran saya, tapi sampai saat ini saya rasa itu tidak berhasil, saya terlalu mencintainya, saya baru sadar itu.

Saya kehilangan dia, untuk kali ini betul-betul harus puas hanya dengan melihat punggungnya saja.

Kebahagiaan, cepatlah datang, saya terlalu bosan larut dalam kesedihan ini. Atau bahkan, kehidupan, bolehkan kami diberikan kesempatan untuk memperbaiki rasa yang kami punya?




l o v e,
Defi Octaviany

Minggu, 10 Maret 2013

Tentang Rasa

Saya adalah orang yang membenci proses, membenci tahapan-tahapan lambat yang memaksa saya untuk menunggu sebuah hasil, namun tanpa saya sadari saya menikmati proses itu, proses dimana saya bisa belajar, memahami, dan akhirnya menerima semua alur yang memang di-setting untuk saya.

Pada bagian ini, saya benci pada proses menjalin hubungan dengan seseorang, yang sejujurnya saya sangat mendalami peran dalam proses itu. Saya tersesat, ya, sekarang saya tersesat akan peran yang saya mainkan, saya meng-improvisasi peran saya terlalu banyak dan jauh, hingga akhirnya saya tersesat!

Saya sungguh mencintai dia, sangat membutuhkan dia dalam setiap aspek kehidupan saya, tetapi kenyataan bodoh dari proses ini adalah bagian yang paling saya benci, yaitu saya tidak akan pernah bisa memiliki dia yang berbeda keyakinan dengan saya. Tidak akan, saya ulangi, berbeda keyakinan dan tidak akan pernah bisa saya miliki selamanya. Oh iya, mungkin bisa, tapi dengan syarat salah satu dari kami harus mengkhianati Tuhan kami. Itu konyol, bodoh, proses ini bodoh! Kekonyolan itu yang membuat saya berani ber-improvisasi dengan peran saya, menyakiti dia dengan mulai mencari celah untuk terus bermain-main dalam pusaran kebosanan saya akan hubungan konyol yang seperti aliran sungai - tidak berujung. Saya pernah melakukan itu sekali, lalu ketahuan dan dimaafkan, dan saya lakukan itu sekali lagi, dan ketahuan lagi kemudian di maafkan. Bukan, bukan ini yang sebetulnya saya mau, sungguh bukan! Saya mau hubungan yang nyata, yang pada akirnya bisa dengan nyata kami bangun cerita itu, cerita masa depan kami. Saya terlalu bosan dan terlalu pengecut untuk bermain dalam cerita ini, saya ingin bersamanya untuk selamanya atau tidak bersamanya sama sekali. Sudah saya katakan tadi kalau saya sungguh mencintainya, tulus, namun cemooh akan kenyataan membuat saya ingin berlari dari semua rasa yang saya punya. Saya hanya punya dua pilihan ini, dan harus saya akui kedua pilihan itu konyol.

Kesalahan pun saya buat kembali, mungkin ini titik-nya, mungkin ini saatnya. Saya harus merelakannya, melepaskannya, membiarkan diri saya bermain sendiri dalam dunia saya, kami tidak bisa terlalu lama memerankan peran kami, kami terlalu jenuh untuk itu, air mata terlalu banyak kami sia-siakan karena ulah saya, saya tidak bisa menyakitinya terus menerus yang padahal sesungguhnya saya sangat mencintainya.

Hanya maaf yang dapat saya katakan kepadanya, maaf yang sebenarnya tidak patut untuk dimaafkan, tapi hanya itu yang saya punya.

Untuknya yang selalu spesial buat saya, entah sampai kapan rasa ini akan menggerogoti saya, namun saya tidak akan pernah menyesal untuk itu, tidak akan pernah.



l o v e,
Defi Octaviany