Welcome to My Paradise..

Hell o readers!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!

Senin, 27 Juni 2011

Cinta Begini

Terinsipirasi dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok penyanyi yang bernama Tangga, gue akhirnya memposting sebuah tulisan berjudul "Cinta Begini". Seperti yang gue dan semua orang ketahui, lagu cinta begini bercerita tentang si pihak ke-tiga, si pihak yang hanya berhak mendapatkan sisa waktu dari si pemeran utama, si pihak yang tidak akan pernah diprioritaskan dan si pihak yang juga sebenernya punya rasa yang sama atau bahkan lebih dari pemeran utama itu. Hah, posisi yang tidak enak intinya, yang kadang menjadi bagian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, tapi ketika kita berada di suatu keadaan yang akhirnya mengantarkan kita pada posisi itu, gue yakin siapapun ingin sekali menolak namun terkadang rasa ingin tetap ada si situ lebih besar. Rumit!
Keadaan yang selalu ada adalah si pihak atau orang ke-tiga yang selalu menjadi "dia yang bersalah", yang disebut-sebut sebagai penghancur hubungan orang lain, malah lebih parah dikatakan sebagai orang yang tidak punya perasaan, yang tanpa diketahui dengan jelas ternyata si pihak ke-tiga adalah orang yang juga punya perasaan yang sama, punya rasa yang meluap-luap juga, namun mungkin waktu, keadaan dan posisi yang kurang bersahabat dengannya. Tapi dengan alasan apapun dan dengan pembelaan apapun tetap saja si pihak ke-tiga tidak akan pernah dibenarkan, tidak akan pernah! Malah opini terparah yang mungkin akan didapatkan adalah: cuma sebagai intermezzo doang buat hubungan mereka. Tragis!

Alasan kuat kenapa pada akhirnya gue memposting tulisan ttg ini adalah karena beberapa waktu yang lalu gue pernah ada di posisi ini, bukan, gue bukan jadi pasangan yang hubungannya sedang diganggu oleh orang ke-tiga, tp gue adalah orang yang menjadi si orang ke-tiga itu, gue hanya menjadi intermezzo di saat laki-laki itu sedang jenuh dengan hubungannya yang udah terlalu lama, gue hanya jadi pelengkap cerita hidupnya yang selama ini terlihat datar-datar saja, gue lagi dan lagi harus puas oleh keputusan: gue sayang elo tapi maaf kita gak akan bisa sama-sama, sampai kapanpun! Ya, sangat menyedihkan, serius! Tiap hari dia emang intens, intens banget hubungin gue, pesan blackberrynya selalu masuk ke gue, pesan singkat YMnya juga gitu, dan dia juga gak pernah ragu untuk membagi waktunya buat ketemu gue, gak pernah nolak ketika gue ngajak dia ngelakuin hal-hal konyol yang sering kita lakuin untuk ngebunuh waktu kita, dan tidak pernah keberatan untuk seolah-olah menjadi pacar gue ketika dia lagi bareng gue, tapi tetep aja itu semua gak ngerubah apapun, gak ngerubah status dia yang bukan pacar gue melainkan pacar orang lain! Gue gak bisa bilang kalo gue tidak menikmati setiap kebersamaan yang gue punya bareng dia, gue gak bisa bohong kalo untuk setiap sentuhan yg dia berikan ke gue tidak menimbulkan rasa apapun buat gue, dan sebenernya gue juga liat kenyamanan yang dia rasakan, kenyamanan ketika kita lagi sama2, ketika dia mengingatkan berbagai hal ke gue, sangat tidak mungkin kalau dia cuma biasa aja ke gue, kalo emang status temenan itu pure dia artikan sebagai temen! Huh!

Tapi entah kenapa di tiap keadaan Tuhan kaya mau ngasih tau gue kalo laki-laki yang selama ini menjadi obat kenyamanan gue itu adalah laki-laki yang brengsek, laki-laki yang hanya membutuhkan sensasi baru dari kehidupannya yang belakangan mulai terasa biasa-biasa aja, dan juga laki-laki yang pada akhirnya terjebak pada perasannya sendiri dan terlihat bangga kalau ternyata dia masih punya "the only one"nya ketika dia harus kehilangan gue! Oke, gue bukannya tidak tau kalo dia sudah punya perempuan lengkap dengan masa pacaran 4 tahunnya, gue juga gak bego kalo hanya dalam hitungan tahun mereka akan menikah, tp demi kekuatan apapun gue gak bisa untuk melepaskan dia lengkap dengan title "brengseknya". Cuma di sini gue mau bilang kalo Tuhan masih baik sama gue, ada aja cara buat ngasih tau gue kalo emang bukan dia yang pantes dan baik buat gue, dan di sini gue sangat percaya dengan istilah "ini emang udah jalannya Tuhan". Iya, sekitar beberapa bulan yang lalu akhirnya hubungan tanpa status yang manis itu harus puas berakhir begitu saja, laki-laki yang memang sangat takut kehilangan perempuannya akhirnya dengan jelas bilang ke gue kalo kita harus menyudahi semuanya dengan alasan dia yang akan memulai hidup baru dengan perempuannya di tahun depan, dia yang dengan entengnya membeberkan semuanya seakan2 gue adalah orang yang tercipta tidak dengan perasaan apapun! Ya, pada akhirnya semuanya emang harus berakhir, dan mungkin bener-bener melalui orang lain kita bisa menyudahi semuanya, yang lebih tepatnya adalah ketika perempuannya mengetahui kalau gue dan dia punya kedekatan "lagi" seperti beberapa tahun yg lalu. Kenapa lagi? Karena dulu, gue dan dia juga pernah deket, deket banget, tapi lagi dan lagi emang mesti saling berjauhan karena statusnya yang adalah pacar orang, sampai sekarang!

Well, yang ingin gue bahas di sini bukan detail dari kisah gue yang pait dan menye-menye itu, tapi gue pengen untuk setiap orang yg baca blog ini bisa tau dan ngerti sensasi dari posisi si pihak ke-tiga itu, yang entah dari sisi mana bisa dibilang betul dan dari segala sisi dibilang salah. Yang ternyata keterlibatan menjadi pihak ke-tiga bukannya unsur dari kesengajaan, melainkan segala faktor kedekatan yang dulu dinamakan pertemanan membawa pada satu rasa yang pada akhirnya menjadi komplikasi dan tepat pada posisi yang salah. Si dia laki-laki yang juga sangat pandai untuk menciptakan suasana, yang seakan-akan tidak pernah menomor duakan si pihak ke-tiga, yang terlihat seperti selalu menyediakan segala waktu dan kenyamanan untuk orang ke-tiga tanpa mendapatkan gangguan apapun dari perempuannya yang mungkin sudah dibumbui dengan sejuta alasan yang membuat perempuan tersebut percaya 1000% untuk tidak menggangu lelakinya dalam beberapa jam yang padahal sedang membagi waktu dengan perempuan lain yang membawanya pada sensasi dan kenyamanan yang berbeda. Apapun itu, sejauh ini gue tidak pernah menyalahkan adanya keberadaan menjadi si orang ke-tiga, karena gue sangat yakin diri sendiripun enggan untuk menyelesaikan semuanya, terlalu takut untuk kehilangan "obat kenyamanan" itu dan terlebih parahnya lelaki pemberi kenikmatan seolah menyediakan segala sesuatunya yang mengantarkan pada titik kenyamanan. Dan memang pada akhirnya "ini emang udah jalannya Tuhan" yang akan memberi keputusan terakhir.


Aku bisa terima
Meski harus terluka
Karena kuterlalu, mengenal hatimu

Aku telah merasa
Dari awal pertama
Kau tak kan bisa lama, berpaling darinya

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar
Tuk sementara

Chorus:
Akhirnya kita harus memilih
Satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani
Cinta begini

Kar'na cinta tak akan ingkari
Tak kan berbagi
Kembalilah pada dirinya
Biarku yang mengalah

Aku terima

Saatnya kembali, nurani bicara

Ku tak bisa terima
Bila terus tak setia
Mengkhianati dia, menduakan cinta

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah
Sekedar tuk sementara

Sebentar kutelah kecewa
Biarlah aku pergi
Nikmati luka ini
Perih ini sendiri




l o v e,
Defi Octaviany

Rabu, 22 Juni 2011

Ini yang Namanya Hidup

Kita sebagai manusia gak pernah tau hidup itu kaya apa, kita gak tau juga hidup itu baiknya disebut sebagai sahabat atau malah sebaliknya. Kita hanya tau bagaimana kita harus mengikuti pola kehidupan ini supaya kita tetep survive sekalipun kadang hidup itu ada di satu titik yang namanya KEJAM. Hidup itu indah, sebagian orang sependapat akan hal ini, hidup itu sulit, ya, mungkin tidak sedikit yang setuju, hidup itu teka teki, tepat sekali, gue setuju dengan pernyataan terakhir ini. Gue dan siapapun yang ada di dunia ini mungkin gak akan pernah bisa tau kehidupan di kedepannya itu kaya apa, gak pernah bisa menerka-nerka akankah hidup di esok hari itu menyenangkan atau memusingkan, gak akan bisa nebak kita akan ada di bawah atau di atas, ya hidup adalah roda, yg memungkinkan kita untuk berada di bawah maupun di atas, penuh dengan teka teki!

Tapi dari hidup itu sendiri kita belajar banyak hal, belajar buat mempelajari, mengerti dan menerima, semua aspek komplit kita dapetin di satu kata yang namanya hidup. Sebenernya gue di sini agak berat nulis serangkaian kata dan kalimat mengenai hidup itu sendiri, karena ini adalah topik yang sensitif, yang setelahnya gue yakin akan mengundang pro dan kontra dari banyak orang, tapi gue cuap-cuap di sini bukan untuk membentuk forum pro dan kontra itu sendiri, gue hanya ingin bercerita tentang pemahaman gue tentang hidup itu sendiri.

21 tahun belakangan ini gue belajar banyak banget tentang hidup yang gue jalanin, setiap hari gue merasakan sensasi yang berbeda-beda, yang kadang gue bisa bilang kalo gue cinta banget sama hidup gue, gue bersyukur banget, gue bahagia banget, tapi di lain situasi gue sangat mengutuki hidup gue lengkap dengan semua kepahitan dan kegagalannya. Hidup gue dibumbui dengan segala rasa, rasa yang pada akhirnya menuntut gue untuk lebih dewasa dan rasa yang juga terkadang membuat gue untuk pura-pura mati rasa! Gak jarang gue terjebak akan permainan hidup ini, akan setiap kokomplikasiannya dan pada titik terparah gue seakan pengen punya remote yang bisa gue gunakan untuk mengendalikan hidup gue, untuk membuat semuanya berjalan baik-baik aja, tanpa kekecewaan, tanpa kedukaan dan tanpa air mata!

Tapi semakin ke sini entah kenapa terkadang gue menikmati tiap masalah yg gue punya, gue menyukai ketika hidup memaksa gue untuk menangis, untuk memutar otak gue, dan untuk mendesak gue berpikir jauh lebih baik dan bijaksana, ya, mungkin untuk itulah masalah tercipta. Untuk membentuk pribadi yang "megah" buat hidup gue sendiri, untuk menyadarkan gue juga supaya gue gak lupa untuk bersyukur, dan membuat gue lebih mengerti kalo ternyata gue terkadang memang harus mengandalkan orang lain, yang minimal bisa gue jadiin sandaran untuk gue nangis kemudian berbagi tentang hidup yang katanya luar biasa ini..




l o v e,
Defi Octaviany