Welcome to My Paradise..

Hell o readers!
Okay, give me some space to promote my self. Im Defi octaviany, I was born on October 7th 1989 in Jakarta and also grows in Jakarta. I love pink, I love mama papa, I love babies, I love doing something stupid, I love laughing, I love you, and the most importantly I LOVE MY SELF. Yepp, let's go to the world of fantasy!!

Jumat, 18 Februari 2011

Dia Sahabat

Agak berat ketika gue mesti nulis kata sahabat, entah kenapa. Mungkin artinya yang terlalu rumit dan berat atau mungkin juga gue yang terlalu gak bisa memahamin sahabat itu lebih tepat diartikan kemana dan bagaimana. Apapun itu, yang jelas gue merasa kalau gue memiliki sahabat, yang artian sahabat itu sendiri hanya ada dalam pemahaman gue.

Well, di sini gue mau cerita tentang seorang sahabat gue, dengan persahabatan yang udah kita bina hampir 6 atau 7 tahun lamanya. Perkenalan sahabat ini terjadi dari hal yang biasa-biasa aja, yang akhirnya membuat kita mengenal antara satu dengan yang lain dan membumbui rasa persahabatan itu dengan cerita, ceria dan harapan. Tawa yang kita miliki untuk melengkapi rasa itu selalu menjadi awalan yang baik untuk menumbuhkan rasa percaya dan kesetiaan antara satu dengan yg lain. Dari situ, kita memulai cerita yang kita sama-sama tau kalau kita enggan untuk mengakhirinya, sampai kapanpun! Saling melengkapi, ya itu adalah bumbu yang paling kuat dalam panggung ini, dimana gue yang selalu ketus di imbangi dia yang agak lembek, gue yang tidak berperasaan diimbangi dia yang selalu berpikir tentang perasaan itu sendiri, dia yang agak cuek dan agak tidak teratur sangat terbalik dengan gue yang amat memperdulikan peraturan dan disiplin, gue yang sangat berpenampilan perempuan dan dia yang lebih cuek akan penampilannya, gue dan dia, punya banyak perbedaan!

Tapi kita juga punya segudang kesamaan yang kita tau itu adalah jurus yang ampuh untuk mempertahankan persahabatan kita. Di sini gue dan dia sama-sama belajar banyak untuk saling memahami, belajar untuk mengalah, belajar untuk berbagi, belajar untuk ikut merasakan, belajar untuk sabar dan belajar untuk memaafkan. Hufh, dan untuk yang terakhir itu gue mau bilang kalo saat ini gue amat sulit untuk melakukannya!

Oke, soal memaafkan! Ini mungkin keliatannya sepele atau juga terkesan mudah untuk elo yg merasa kalau itu adalah satu hal penting yg harus elo lakuin untuk persahabatan elo. Ya, gue memang sependapat untuk itu, sungguh! Tapi tolong kasih gue celah untuk memberikan sedikit pembelaan diri atau terserahlah lebih tepatnya apa, untuk ngomong kalo ternyata ada saat dimana memaafkan itu menjadi hal yang sulit dalam dunia persahabatan elo. Gue egois? Engga juga kok! Semua logika pasti setuju kalo gue bilang untuk setiap hal itu semuanya ada batesannya. Ya, sama aja dengan hal memaafkan ini, gue merasa kaya kesabaran gue atau hal mulia untuk memaafkan itu udah habis, atau mungkin bukan habis, tapi sedang kemarau! Dan please jangan pernah bilang ini adalah suatu keegoisan, melainkan ini adalah pelampauan kesabaran gue sebagai manusia.

Jadi gini, seperti yang gue bilang di atas tadi, gue dan sahabat gue punya beberapa hal yang membedakan karakter kita, terutama dalam bidang emosional. Gue adalah tipe orang yang kalau gue sebel atau tidak suka akan sesuatu, gue akan bilang dan akan nunjukin kalo gue gak suka, gue akan bahas dan bicarakan itu baik-baik, gue akan bilang ke sahabat gue itu untuk saling mengoreksi. Banyak yang gak suka akan hal itu? IYA! Tapi sebenernya hal itu penting, awalnya mungkin akan keliatan menyakitkan tapi gue yakin setelah itu engga dan akan memperbaiki, karena sebagai sahabat yang baik elo harus bisa mengatakan semua hal yang baik dan tidak baik kepada sahabat lo itu, dan sekali lagi, ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menjadikan sahabat lo terlihat lebih baik di kedepannya. Oke, kembali ke memaafkan tadi, masalah yang gue punya dengan sahabat gue ini mungkin kedengerannya sepele, bahkan amat kekanak2an, tapi untuk posisi gue pada saat itu, mungkin ini bisa diterima.

Kejadiannya beberapa minggu lalu, ketika kita lagi liburan sama-sama ke luar kota. Liburan yang singkat, tapi gue menyukainya, karena udah lama banget kita merencanakan untuk liburan sama-sama. Di liburan kali ini gue menawarkan untuk bawa si Pinkan dan tidak keberatan kalau gue yang nyetir (berhubung pada gak bisa nyetir manual), gue ngelakuin itu dengan senang hati, tapi dengan kesepakatan bahwa tidak boleh ada yang tidur selama perjalanan, ya itung-itung yang lain ikutan memantau jalanan dan menemani gue yang saat itu nyetir dengan jarak yang tidak dekat. Semua sependapat akan hal itu, namun sesekali mereka menggoda gue dengan mengatakan "ah gue tidur ah", kata-kata itu gue bales dengan lelucon yang memuakkan juga, karena buat gue kata-kata itu cukup memuakkan, ya gimana engga, nyetir manual pulang pergi jakarta - bandung itu kan bukan jarak tempuh yang sebentar, tapi ya gue tidak ambil pusing untuk itu, karen buat gue impas, 1-1, olokan yang memuakkan dengan jawaban yang memuakkan. Well, itu bukan point utama yang membuat perasaan gue agak sedikit tersinggung dan bikin mood gue drop, beneran bukan itu!

Jadi gini, sahabat gue yang tadi gue sebut-sebut di atas adalah tipe orang yang emosinya sangat tipis, dengan kata lain terlalu sensitif! Buat orang-orang yang kenal dia pasti sependapat sama gue akan hal ini. Bukannya gue tidak menerima setiap kekurangan dan kelebihan dia, engga sama sekali, dan bukannya gue tidak pernah melukai dia atau punya salah sama dia, itu juga engga, tapi mungkin keadaan saat itu yang membuat otak gue buntu dan diri gue didominasi oleh iblis yang gak punya hati. Suatu ketika, tiba-tiba kesensitifannya keluar, yang sumpah, siapapun yang lagi disensiin kaya gitu pasti bete berat. Dan ini bukannya sekali dua kali dia kaya gini, ini sering banget, ibaratnya ini udah mendarah daging sama dirinya. Selama ini kalo dia lagi bete, dia lagi sensi dan menyebalkan, gue selalu berusaha untuk membujuk dia, gue terlalu takut kehilangan sahabat gue jadi prinsip gue adalah, sekalipun mungkin gue gak salah ataupun siapapun yang udah buat dia ngerasa ga nyaman, gue akan berusaha untuk mengembalikan mood dia, untuk menceriakan dia lagi dan mengembalikan dia pada karakternya yang utuh. Gue tulus ngelakuin itu, dan gue bersyukur hampir 80% gue berhasil melakukannya. Tapi entah kenapa saat itu jiwa gue melayang jauh, entah kenapa saat dia mulai mengeluarkan sifatnya yang menyebalkan itu gue gak bisa terima, dan sungguh gue menyesal, otak gue bilang kalo ternyata sahabat gue itu tidak bisa menghargai gue sebagai sahabatnya, sorry kalo nanti akhirnya gak sependapat sama gue, tapi ini emang yang gue rasain saat itu.
Ketika kita mau pulang, ada satu pertanyaan yang gue lemparkan ke dia dan dia jawab dengan nada yang menyebalkan, dan di situ dia menegaskan kalo gak pernah jadi masalah dia sensi atau tidak. Ya, itu emang bukan masalah dia, tapi itu akan jadi masalah orang-orang sekitarnya, yang adalah gue! Kalaupun saat itu ada hal yang bikin dia marah atau tersinggung karena gue, bukankah lebih baik dia bicarakan, dibanding harus mengeluarkan jurus kesensitifannya, yang dia gak sadar kalau itu akan berakibat buruk ke yang lain. Atau minimal, kalau emang dia males untuk ngebahas itu, bisakah dia sedikit berjiwa besar untuk gak berubah jadi seseorang yang lagi mau dapet. Dan yang sangat gue sesali adalah emosi gue juga yang kaya tempe, yang buat gue mikir macem-macem, atau lebih tepatnya gue sangat tersinggung dengan sifatnya yang seperti itu. Gue berpikir, tidakkah saat itu elo menjaga mood gue, yang jelas-jelas harus mengumpulkan konsentrasi untuk nyetir selama 2 jam lebih perjalanan, tidakkah elo berpikir kalau menyetir itu hal yang melelahkan, elo aja yang hanya duduk menikmati lagu dan sekeliling merasa lelah, apalagi gue, yang harus ON banget buat nyelesain perjalanan kita sampe Jakarta. Tidak terpikirkah hal itu sama sekali, atau emosi lo yang meletup-meletup itu yang bikin elo gak bisa melihat hal-hal lebih detail? Entahlah, gue terlalu tidak pandai untuk membaca pikiran seseorang. Saat itu, yang gue harapkan hanyalah kita semua bisa menjaga mood antara satu dengan yang lain dan menciptakan tawa dan keakraban, bukannya situasi jelek kaya gitu. Satu kali aja, beneran satu kali itu aja gue mengharapkan dia bisa menyimpan itu semua dengan manis, setelah itu, dia mau mencaci maki gue pun gue tidak akan marah dan gue tidak akan berpikir hal-hal yang jelek. Tapi ya sangat disayangkan sekali ternyata bukan hal baik yang terjadi, melainkan dia yang terlalu menunjukkan kesensitifannya dan gue yang juga terpancing oleh hal bodoh itu. Ya, gue merasa sangat bodoh ketika gue melakukan itu. Dan kalau boloeh gue memberikan sedikit pembelaan, tidak bisakah dia bersikap seperti orang yang agak dewasa, yang satu kali aja memikirkan perasaan orang lain, yang hari itu saja bisa bersandiwara akan perasaannya, ya, semoga suatu saat dia bisa. Saat itu, di hari yang jelek banget itu, gue ingin sekali menangis, gue menyumpahi diri gue sendiri yang terlalu terbawa perasaan, gue benci hari itu, hari dimana gue menumpukkan sejuta kekesalan, hari dimana gue merubah prinsip gue untuk mencoba merayu dan mengejarnya ketika moodnya lagi tidak baik, hari yang membuat gue berpikir kalau sebuah tembok harus gue bangun. Di perjalanan pulang dengan pahit gue berbisik dalam hati kalau sudah tidak ada lagi kesabaran untuk dia, kalau semuanya harus diberi ketegasan, yang gue berharap itu akan membuat dia berpikir akan setiap hal yang akan dia lakukan, terutama buat orang lain. Saat itu, harumnya persahabatan harus gue hancurkan dengan keiblisan gue!

Ya, dengan berat hati gue tidak menggubris setiap tweetan dia, gue pun pura-pura tidak tau akan pesan singkat yang dia kirimkan ke gue via YM, gue berusaha mati-matian untuk mati rasa dan mengubur dalem-dalem rasa manis akan nikmatnya persahabatan itu. Gue membuat kesepakatan kepada diri gue sendiri kalau untuk saat ini gue enggan untuk membina hubungan itu dulu, kalau gue ingin dia berpikir bahwa tidak selamanya lingkungan yang harus menyesuaikan dia, kalau sekali-sekali dia yang harus menyesuaikan lingkungan di tempat dimana dia berada, kalau ternyata tidak selamanya lingkungan atau siapapun bisa memahami dia dan mengalah untuk dia, gue ingin sekali dia agak terbeban untuk itu.

Di sini, gue akan tetep menjadi sahabatnya, gue akan selalu mendukung setiap keputusan yang dia bikin, gue akan tetep bilang salah kalo dia salah, gue juga akan mengacungkan jempol ketika dia terlihat hebat dan akan tetep mau menjadi sandarannya ketika dia merasa kalau dunia ini sedang tidak adil untuknya. Gue selalu berdoa gue dikasih kebijaksanaan yang luar biasa dan pengertian yang lebih untuk semua sahabat yang gue punya. Untuk dia yang disana, semoga kita bisa menjadi bijak dan bisa lebih memahami akan pahit manisnya persahabatan ini.




l o v e,
Defi Octaviany